Di antara benda pusaka yang memiliki kekuatan gaib dan menjadi legenda di negeri ini adalah Rante Babi atau Rante Bui (Aceh). Sudah sejak lama menjadi bahan cerita, beredar dari mulut ke mulut. Tapi seperti apakah Rante Babi itu sebenarnya, saya yakin banyak yang belum mengetahuinya.


Belakangan, banyak benda yang diklaim sebagai Rante Babi beredar di pasaran untuk diperjualbelikan. Wujudnya bermacam-macam. Karenanya agak sulit memastikan mana yang asli dan mana yang abal-abal alias palsu.

Meskipun pengetahuan saya tentang Rante Babi belum begitu dalam, namun saya berharap dengan tulisan ini khalayak ramai bisa mengidentifikasikan ciri-ciri Rante Babi yang asli. Bukan buatan tangan manusia atau hasil rekayasa, tapi benar-benar berasal dari Bui Tunggal – sebutan bagi raja babi hutan yang hidup menyendiri dari kelompoknya. Rante Babi yang orsinil dipercaya memiliki khodam dahsyat yang membuat pemiliknya menjadi sakti mandra guna: kebal terhadap segala jenis senjata!  

 

Mitos yang beredar, Rante Babi hanya bisa diperoleh dari seekor Bui Tunggal . Kemana pun raja babi ini pergi, Rante Babi menggantung di kedua taringnya.  Sayangnya, Bui Tunggal  hanya ditemukan di hutan-hutan Aceh dan Kalimantan. Bagaimana dengan hutan-hutan di Jawa? Atau pulau-pulau lain di Indonesia?

Ini masih menjadi misteri. Dan juga perdebatan. Karena seperti kita ketahui di Jawa sekalipun yang hutannya mulai menipis, masih banyak ditemukan gerombolan celeng (istilah lain bagi babi hutan) yang sering merusak tanaman penduduk. Sesekali, pemburu berhasil menembak mati seekor babi hutan berukuran paling besar dan dianggap sebagai raja celeng. Namun pada hewan ini tidak ditemukan pusaka yang disebut Rante Babi yang konon menggantung pada kedua taringnya.

Setidaknya itu yang saya alami ketika pada 1990-an ikut tim Perbakin berburu celeng di hutan di lereng Gunung Slamet, Kecamatan Bumijawa, Tegal. Pada hari ketiga perburuan, kami berhasil menembak mati seekor celeng dengan bobot lebih dari 200 kg.
    
Karena penasaran dengan mitos Rante Babi, saya mulai mengamat-amati bangkai celeng tersebut. Tentu perhatian saya langsung tertuju pada kedua taringnya yang sangat panjang. Namun pada masing-masing taringnya yang sebelah kanan maupun kiri tak saya temukan benda yang saya cari, yaitu Rante Babi.

Dengan sedikit menghibur diri, saya menduga celeng besar yang kami tembak bukanlah seekor raja babi hutan. Cuma celeng biasa. Buktinya pada kedua taringnya tidak menggantung Rante Babi yang sangat dicari orang itu.  
    

Beberapa teman pemburu menguatkan analisa saya. Meski sudah ratusan babi hutan ditembak mati, dan di antara babi itu ada yang berukuran paling besar yang dianggap sebagai rajanya, mereka tak sekalipun menemukan Rante Babi pada hewan yang selama ini menjadi musuh petani itu.

Jadi benarkah Bui Tunggal tak pernah hidup di hutan-hutan di Jawa, melainkan hanya ada di Aceh dan Kalimantan? Ketika Tsunami memporak-porandakan Aceh, saya beberapa kali berkunjung ke Negeri Rencong itu. Kesempatan itu tak saya sia-siakan. Saya sempat bertanya pada beberapa teman di sana, cerita tentang Bui Tunggal yang katanya memiliki Rante Babi pada kedua taringnya.

Jawaban mereka agak di luar nalar. Katanya Bui Tunggal itu bukan babi hutan biasa. “Itu babi siluman. Tidak mempan ditembak karena punya Rante Babi pada taringnya. Untuk mendapatkan pusaka itu tentu tidak dengan cara-cara biasa. Harus pakai pendekatan mistis pula,” kata seorang teman dari Harian Serambi Aceh.

Ketika saya mengungkapkan saat ini banyak orang menawarkan Rante Babi dan diklaim sebagai pusaka asli, teman wartawan itu hanya tertawa. “Itu kan pintar-pintarnya orang cari duit bang. Setahu saya tidak gampang mendapatkan Rante Babi yang asli. Pakai ritual khusus. Itu pun banyak yang gagal. Saya kira yang berhasil hanya mereka yang benar-benar berjodoh dan layak mendapatkan pusaka tersebut,” ujarnya serius.  

Di bukunya, The Achehnese, Snouck Hurgronje sedikit menyinggung soal Rante Babi. “Bui Tunggal selalu dijumpai tidak berkawan dengan kelompoknya. Pada babi hutan ini tumbuh sejenis kaitan besi di hidungnya yang membuat binatang tersebut kebal.

Kaitan itu sebenarnya terjadi dari cacing tanah (glang tanoh, Aceh) yang tertelan ketika ia makan, lalu bersarang di hidungnya, dan berubah menjadi suatu benda yang mendatangkan keuntungan.  Jika Bui Tunggal itu makan, maka ia akan melepaskan kaitan itu. Beruntunglah orang yang dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil rante tersebut.”

Jelas sudah, Bui Tunggal  atau raja babi hutan yang hidup menyendiri itu tak bisa dilumpuhkan dengan cara ditembak. Mesti pakai siasat lain untuk mendapatkan  Rante Babi yang menggantung di taringnya. Menurut Snouck Hurgronje, satu-satunya cara hanya menunggu babi itu melepaskan pusakanya saat makan. Ya, itu kesempatan untuk memperoleh Rante Babi. Tinggal diambil, dibawa pulang. Begitu mudah bukan?

Tapi eiit…tunggu dulu. Masalahnya, kapan peluang itu datang? Kapan anda mendapatkan keberuntungan bertemu dengan Bui Tunggal dan mendapatkan kesempatan melihat raja babi hutan itu menanggalkan pusakanya saat makan? Tentu bukan seperti membalik tangan. Ingat, Bui Tunggal bukan binatang biasa. Seperti kata teman dari Harian Serambi Aceh, babi ini setengah siluman. Tentu tak mudah melihatnya secara kasat mata. Bisa jadi binatang ini hanya ada di alam gaib.

Karena bukan binatang biasa tapi setengah siluman, apalagi di taringnya menggantung Rante Babi, Bui Tunggal dipercaya tak bisa dilumpuhkan dengan cara ditembak. Saya mencoba mengutip pengalaman seorang penulis dan juga paranormal yang pernah hidup di pedalaman Kalimantan pada 1974. Saat itu penulis baru berusia 7 tahun, ayahnya menjabat KKPH Dinas Kehutanan di Melak, Hulu Mahakam, Kaltim.

Suatu malam, penulis dan keluarganya dikejutkan oleh suara berisik dan lenguhan di samping rumahnya. Ayahnya serta-merta mengambil senapan panjang, mengisi peluru, dan mencari sumber suara binatang itu. Terdengar bunyi senapan meledak. Seekor babi yang amat besar berhasil ditembak ayahnya. Namun anehnya, sesaat kemudian babi itu mampu bangkit berdiri. Babi itu tidak menderita luka sedikit pun. “Babi itu hanya sedikit kaget, lalu lari meninggalkan rumah kami,” tutur si penulis.

Paginya, anak buah ayah penulis yang penduduk asli, Suku Dayak Kenyah, bercerita kalau babi yang ditembak semalam adalah raja babi hutan. Dalam kegelapan malam namun terbantu oleh sinar rembulan, penulis bisa melihat sosok si raja babi hutan. Bulu-bulunya gondrong lebat, kedua taringnya panjang.

Menurut anak buah ayahnya, raja babi hutan itu tidak bisa ditembak karena memiliki jimat kebal senjata. Jimat itu berbentuk seperti ulat yang membatu yang tergantung pada taringnya. Jika raja babi hutan itu mandi, maka jimat itu akan dilepasnya.

Lalu seperti apa wujud Rante Babi yuang menghebohkan itu? Yang pernah saya lihat, Rante Babi berupa gumpalan bulu kasar yang membentuk lingkaran. Panjang bulu-bulu sekitar 3 sampai 5 cm. Pada lingkaran itu nampak bulatan-bulatan yang jumlahnya selalu ganjil. Bulatan-bulatan ini lazim disebut mata. Jadi sebuah Rante Babi biasanya memiliki mata 9, 11, 13, 15, 17, 19, 21, 23 dan seterusnya.

Seperti karet gelang, Rante Babi bersifat elastis. Lebar lingkarnya mengikuti media yang memasukinya. Ia bisa selebar jempol tangan hingga seukuran diameter gelas. Begitu masuk ke media tersebut, Rante Babi akan mencengkeram kuat dan tak mudah lepas.

Apa saja manfaat Rante Babi? Benarkah mustika ini memiliki kekuatan gaib luar biasa? Masyarakat Aceh percaya Rante Babi memberikan daya kebal senjata pada pemakainya. Rante Babi akan membuat seseorang tak mempan ditembak atau ditusuk dengan senjata tajam. Bahkan rambutnya anti cukur.

Benarkah? Entahlah. Tapi yang pasti saat rakyat Aceh berjuang melawan Belanda, banyak pahlawan mereka yang melengkapi diri dengan pusaka ini. Salah satunya adalah Tengku di Cot Plieng. Ketika sang pahlawan gugur, pada jenazahnya ditemukan seuntai kalung dengan bandul ulat yang telah membatu. Mereka menyebut pusaka ini sebagai Rante Bui alias Rante Babi. Saat ini pusaka tersebut tersimpan di Koloniaal Museum Amsterdam, Belanda.

Gaung kedahsyatan Rante Babi sebagai pusaka kebal senjata membuat banyak orang terpancing untuk menguasainya. Tak sedikit pula yang mengaku memiliki pusaka ini dan mengklaim Rante Babi yang diperolehnya benar-benar asli. Agar orang lain percaya, ditambahkan sedikit bumbu cerita bagaimana pusaka ini didapatkan. Cerita-cerita seram nan mistis tentunya.

Demi mengeruk keuntungan, beberapa orang menawarkan Rante Babi untuk beli. Akhir-akhir ini marak jualan benda gaib lewat media online, salah satunya Rante Babi. Harga yang ditawarkan untuk seuntai Rante Babi bervariasi, dari Rp 2-3 juta sampai puluhan juta rupiah. Anehnya wujud Rante Babi yang ditawarkan seorang penjual biasanya berbeda dengan penjual lainnya. Jadi mana yang benar-benar asli? Bingung ya? Nasihat saya: hati-hati, jangan asal membeli.

Agar anda tidak tertipu, beberapa metode ini bisa dipraktekkan untuk menguji keaslian Rante Babi.
1.    Tembus Kaca
Meski berupa zat padat, tapi kekuatan magis yang terkandung pada pusaka ini membuatnya seolah-olah bisa lenyap atau tanpa massa. Contohnya, saat Rante Babi dilemparkan ke atas sebidang kaca, maka benda itu tembus tanpa memecahkan kaca tersebut.

2.    Jika Dilempar ke Lantai Berdenting seperti Logam
Seperti diketahui, Bulu Babi terbuat dari materi non metal. Sebagian besar bahan-bahan yang terkandung di dalamnya adalah ulat atau cacing yang telah membatu plus bulu-bulu babi. Tapi anehnya jika pusaka ini dijatuhkan ke lantai, maka akan terdengar dentingan seperti logam. Persis seperti uang koin yang dilempar.

3.    Dikasih Makan Gabah
Kalau benar itu Rante Babi asli, saat diberi makan gabah maka bulu-bulunya akan berdiri. Persis seperti bulu kuduk merinding.

4.    Dimasukkan ke Dalam Botol
Begitu berada di dalam botol, Rante Babi tidak akan diam, tapi terus bergerak ke atas dan ke bawah.

5.    Kebal Senjata
Bentuk Rante Babi yang elastis akan melar dan bisa dikenakan sebagai gelang tangan atau bahkan ikat pinggang. Untuk menguji keasliannya, kita bisa memotong rambut atau kuku saat memakai pusaka tersebut. Jika benar-benar kebal, berarti Rante Babi itu memang asli.


Sebagai benda gaib, diyakini ada khodam (roh halus) yang bersemayam di dalam Rante Babi. Hal ini yang membuat pusaka tersebut memiliki kekuatan istimewa. Namun agar kekuatan magis itu betah berada di dalamnya, Rante Babi harus dirawat dengan cara diberi makan. Rante Babi mesti disuguhi santapan kesukaannya yaitu ubi dan talas. Namun pada saat-saat tertentu ia makan lumpur dan cacing basah.
    
Jika tidak sedang digunakan, Rante Babi biasanya dibungkus dengan kain kuning. Lalu dipendam di dalam tanah. Bagaimana jadinya jika Rante Babi ditelantarkan atau kurang dirawat? Katanya si Rante Babi akan ngambek. Dan kalau ngambek, pusaka ini akan lenyap begitu saja. Tanpa pesan dan say goodbye pada pemiliknya..he he.      

Oh ya, tak selamanya Rante Babi memberikan keuntungan pada pemiliknya. Ada hal-hal merugikan yang melekat pada empunya pusaka ini. Salah satunya, orang yang menguasai benda ini akan mengidap penyakit kulit seperti kudis atau kurap. Anehnya penyakit ini tak bisa disembuhkan dengan obat apapun.

Selain itu pemilik Rante Babi akan berubah sikapnya, menjadi temperamental dan sulit mengontrol emosi. Hal-hal kecil membuatnya gampang bertikai dengan orang lain. Tak hanya itu, Rante Babi akan mengubah sebagian fisik pemiliknya. Rambutnya akan menjadi kaku. Begitu pula dengan bulu-bulu di sekujur tubuhnya. Kulitnya pun mengeras dan kasar, mirip kulit babi hutan. (*)

 

 

     Di mana anda bisa datang dan berkonsultasi dengan Jeng Asih?

JAKARTA :
Hotel Melawai 2 Jl Melawai Raya No 17 Blok M Jakarta Selatan Tlp (021) 2700447 Hp 08129358

PATI :
Jl Diponegoro No 72 Pati-Jawa Tengah Tlp (0295) 384034 Hp 08122908585 [Selasa dan Rabu]

BATAM :
Nagoya Plaza Hotel [Setiap Kamis dan Jumat (Minggu I)]

 

 

10 Terpopuler