Di tengah-tengah sawah di Desa Wotan Ngare, Kalitidu, Bojonegoro, ada pemandangan unik yang terus terjadi hingga saat ini. Yakni tanah yang merembes dan selalu basah. Letaknya persis di depan gapura menuju petilasan Anglingdarmo.


Banyak yang percaya dulunya itu bekas kolam pemandian Kerajaan Bojonegoro, tempat Dewi Ambarawati memadu kasih dengan Anglingdarmo yang menjelma sebagai burung belibis putih.

Sekilas, tak ada yang istimewa dengan bangunan yang disebut-sebut pernah disinggahi Anglingdarmo itu. Tidak ditemukan benda-benda purbakala berupa arca dan sejenisnya. Yang tersisa hanyalah potongan-potongan batu bata kuno. “Prabu Anglingdarmo pernah mampir ke sini saat menjalani kutukan sebagai burung meliwis putih,” kata Atmo, penjaga petilasan.

 


Legenda Anglingdarmo yang dibumbui dengan kisah asmara memang menarik untuk diikuti. Setidaknya hal itu tercermin dari sinetronnya yang tayang pertama kali pada 2000 an. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya 2013, rumah produksi Genta Buana Paramita merilis lagi sinetron itu dengan judul yang sama.  

Kisah Anglingdarmo dimulai saat dirinya memerintah Kerajaan Malawapati. Hingga saat ini letak Kerajaan Malawapati tidak diketahui secara persis. Namun diyakini wilayahnya meliputi Bojonegoro, Blora hingga Pati di Jawa Tengah. Masyarakat Bojonegoro percaya pusat Kerajaan Malawapati terletak di Desa Wotan Ngare, lokasi petilasannya saat ini. Sementara warga Pati mengklaim bekas kerajaan Malawatipati ada di Desa Mlawat, Kecamatan Sukolilo. Dari kota Pati kira-kira 17 km ke arah selatan menuju Kabupaten Grobogan.

Anglingdarmo menikah dengan Dewi Setyowati, putri Begawan Maniksutra yang tak lain gurunya sendiri. Namun dalam perjalanan hidup mereka sebagai pasangan suami istri, Dewi Setyowati kurang bahagia. Dewi Setyowati merasa Anglingdarmo sebagai suami kurang mencintainya. Acakali ketika hasrat bercinta Dewi Setyowati muncul, Anglingdarmo justru mengecewakannya.  

 


Suatu malam ketika Anglingdarmo dan Dewi Setyowati tengah berasyik-masuk, tiba-tiba muncul sepasang burung jalak dan bertengger di dahan pohon, persis di atas kepala Sang Prabu. Melihat hal itu nafsu Anglingdarmo untuk mencumbu istrinya menjadi lenyap. Serta-merta ia mengambil panah dan membidik ke arah jalak tadi.

Tanpa sepengetahuan Anglingdarmo, dua jalak itu merupakan jelmaan Sang Hyang Batara Guru dan istrinya, Dewi Uma. Merasa diusik oleh Anglingdarmo,  Batara Guru marah. Ia lalu mengutuk Anglingdarmo akan berpisah dengan istrinya. Sejak itu perkawinan Anglingdarmo dengan Dewi Setyowati tidak harmonis lagi.

Untuk menghibur hatinya, Anglingdarmo banyak menghabiskan waktunya dengan berburu ke dalam hutan. Suatu ketika saat sedang berburu, Anglingdarmo melihat Naga Gini yang merupakan istri Naga Raja atau Naga Pertala, sahabatnya, melakukan hubungan terlarang dengan seekor Ular Tampar. Anglingdarmo kontan naik darah dan memanah Ular Tampar hingga tewas. Sementara Naga Gini terserempet anak panah hingga terluka.

 


Merasa aibnya diketahui Anglingdarmo, Naga Gini balik memfitnah Raja Kerajaan Malawapati kepada suaminya, Naga Pertala. Tuduhannya: Anglingdarmo berniat menghabisinya.
Namun dengan berbagai bukti, termasuk jasad Ular Tampar yang dibunuhnya, Naga Pertala akhirnya percaya sahabatnya itu di pihak yang benar.

Sebagai balas budi, Naga Pertala mengajarkan ilmu berbagai bahasa binatang kepada Anglingdarmo. Namanya Aji Gineng. Namun sebelumnya Naga Pertala berpesan agar ilmu tidak diajarkan ke orang lain. Termasuk kapada istrinya, Dewi Setyowati.

Pulang dari berburu, Anglingdarmo kembali ke istananya. Saat itu ia sudah lupa dengan kutukan yang diucapkan Batara Guru. Timbul rasa kangennya kepada sang istri, Dewi Setyowati. Malamnya, pasangan suami istri melampiaskan rindu mereka. Namun di tengah-tengah keintiman itu, Anglingdarmo seperti mendengar suara bisikan. Ternyata suara itu berasal dari sepasang cicak yang menempel di dinding kamar peraduannya.

Anglingdarmo yang mengerti bahasa binatang berkat Aji Gineng yang dikuasainya, menjadi tersinggung dengan percakapan kedua cicak tersebut. Rupanya melihat Anglingdarmo dan Dewi Setyowati bercumbu rayu, sepasang cicak itu menjadi tergiur. Cicak jantan mengajak cicak betina melakukan hal yang sama.

Karena diolok-olok oleh cicak, hilang nafsu Anglingdarmo. Ia bergegas keluar kamar dan meninggalkan Dewi Setyowati seorang diri. Sebaliknya Dewi Setyowati sangat terpukul dengan perlakuan suaminya. Meski menjadi permaisuri seorang raja, namun dengan direndahkan seperti itu ia merasa hidupnya tak berguna lagi. Dewi Setyowati nekat mengakhiri hidup dengan membakar diri.

 


Anglingdarmo sangat terpukul dengan kematian istrinya. Sebagai rasa penyesalannya, ia bersumpah tidak akan menikah lagi. Sumpah ini didengar
Dewi Uma dan Dewi Ratih. Untuk menguji kesetiwaan Anglingdarmo, keduanya lalu menjelma sebagai gadis cantik. Digodanya Anglingdarmo. Ternyata Anglingdarmo tidak tahan dan hanyut oleh rayuan mereka.

Karena telah melanggar sumpahnya, Anglingdarmo harus menjalani hukuman. Sang raja terpaksa meninggalkan istananya, pergi mengembara sebagai rakyat biasa. Untuk sementara tahta kerajaan diserahkan kepada Batik Madrim, kakak kandung Dewi Setyowati.

Dalam pengembaraannya Anglingdarmo bertemu dengan tiga gadis cantik bersaudara: Widata, Widati dan Widaningsih. Ketiganya jatuh cinta pada Anglingdarmo dan memintanya untuk tinggal bersama mereka. Namun bagi Anglingdarmo tingkah ketiga gadis itu sangat mencurigakan. Karena itu diam-diam ia berusaha menyelidikinya.

Suatu malam, saat ketiga gadis itu pamitan keluar, Anglingdarmo berubah wujud menjadi burung gagak dan membuntuti mereka. Dari sini ketahuan kalau ketiga gadis itu sebenarnya putri siluman yang suka memakan daging manusia. Anglingdarmo geram dan berniat melawan mereka. Namun dalam pertempuran itu Anglingdarmo kalah dan dikutuk menjadi seekor belibis putih. Dengan hati hancur, belibis putih itu pun terbang tak tentu arah.

Ketika sampai di wilayah Kerajaan Bojonegoro, ia tertangkap oleh seorang pemuda bernama Joko Geduk. Dengan penuh kasih sayang, belibis putih itu dipeliharanya.

Kebetulan saat itu Dharmawangsa, Raja Kerajaan Bojonegoro, tengah menggelar sayembara. Ada 2 pria yang memperebutkan seorang wanita bernama Bermani. Kedua pria itu mengaku sebagai suaminya, Bermana. Barang siapa yang bisa mengungkap Bermana yang asli bakal mendapat hadiah besar.

Mendengar ada sayembara yang diadakan Raja Dharmawangsa, belibis putih itu mendesak Joko Geduk untuk mengikuti. Joko Geduk sempat kaget karena belibis putih itu ternyata bisa berbicara seperti manusia. Joko Geduk akhirnya sadar belibis putih itu bukan burung biasa, ia meyakini sebagai jelmaan dewa.   
    
Sesuai petunjuk belibis putih, Joko Geduk diminta membawa sebuah kendi di hadapan Raja Dharmawangsa. Lalu ia meminta kedua lelaki yang mengaku sebagai Bermana agar masuk ke dalam  kendi tersebut. “Siapa yang bisa masuk ke dalam kendi, dia lah Bermana asli,” pancing Joko Geduk.

Tanpa diminta dua kali, salah seorang dari lelaki itu dengan sombongnya mendekati kendi yang disediakan Joko Geduk. Dengan sekali lompatan, ia sudah masuk ke dalam kendi. Joko Geduk cepat-cepat menutupnya. Dari situ diketahui kalau lelaki yang ada di dalam kendi sebenarnya adalah jin yang menyaru sebagai Bermana. Jin itu bernama Wiratsangka.

Sebagai hadiah dari raja, Joko Geduk mendapat jabatan hakim kerajaan. Namun yang lebih istimewa, diam-diam Dewi Ambarawati, putri Raja Dharmawangsi, terpesona dengan keelokan belibis putih peliharaan Joko Genduk. Burung itu dimintanya dari Joko Genduk untuk dijadikan penghiasa kolam kerajaan.

Meski sedang menjalani hukuman, melihat kecantikan Dewi Ambarawati, Anglingdarmo pun tergoda. Dalam suatu kesempatan berdua dengan Dewi Ambarawati, ia mengubah wujudnya sebagai manusia biasa. Seorang pria tampan nan gagah perkasa.

Dalam sekali pandang, Dewi Ambarawati langsung jatuh hati kepada Anglingdarmo. Begitulah, tanpa diketahui siapa pun  di kerajaan itu dua makhluk berbeda asyik memadu kasih: seorang putri raja dengan belibis putih. Sampai akhirnya Dewi Ambarwati mengandung. Kerajaan geger. Berbagai upaya dilakukan untuk mengungkap siapa pria yang berani menghamili putri raja.   

Sekali lagi Raja Dharmawangsa menggelar sayembara. Batik Madrim dalam pengembaraannya mencari Anglingdarmo untuk diajak pulang ke Kerajaan Malawapati, menyamar sebagai
Resi Yogiswara. Lewat mata batinnya, Resi Yogiswara mencurigai belibis putih yang ada di kolam kerajaan sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kehamilan Dewi Ambarwati.

Terjadi pertempuran seru antara Resi Yogiswara dengan belibis putih. Di tengah-tengah pertarungan itu, tiba-tiba belibis putih berbicara layaknya manusia. Ia meminta Resi Yogiswara menyerah karena tak mungkin bisa mengalahkannya. Mendengar suara belibis putih, Resi Yogiswara tahu bahwa yang sedang dihadapinya adalah Anglingdarmo. Resi Yogiswara menghentikan serangannya, ia lalu sujud menyembah kepada belibis putih yang merupakan jelmaan Anglingdarmo.

Tak lupa, Resi Yogiswara menyampaikan maksud kedatangannya menjemput Anglingdarmo untuk dibawa ke Kerajaan Malawapati, karena masa hukumannya telah selesai. Setelah berubah wujud menjadi manusia biasa, Anglingdarmo menikahi Dewi Ambarawati. Namun Anglingdarmo tidak menetap di Bojonegoro, ia memboyong permaisurinya itu ke Kerajaan Mawapati.

Kelak, Angling Kusuma, anak Anglingdarmo dengan Dewi Ambawarati, yang mewarisi Kerajaan Bojonegoro, menggantikan kakeknya, Raja Dharmawangsa.

 

 

     Di mana anda bisa datang dan berkonsultasi dengan Jeng Asih?

JAKARTA :
Hotel Melawai 2 Jl Melawai Raya No 17 Blok M Jakarta Selatan Tlp (021) 2700447 Hp 08129358

PATI :
Jl Diponegoro No 72 Pati-Jawa Tengah Tlp (0295) 384034 Hp 08122908585 [Selasa dan Rabu]

BATAM :
Nagoya Plaza Hotel [Setiap Kamis dan Jumat (Minggu I)]

 

10 Terpopuler